Kebiasaan Menumpuk Barang...Huuuufff
Pernah tidak kalian bertemu atau melihat orang yang menyimpan barang-barang lama bahkan sudah tergolong lamaaaaaa banged alias kuno. Yups...kebiasaan ini tergolong penyakit 'Penumpuk' atau istilah kerennya ''hoarding syndrome'' .
Penumpuk barang ini selalu merasa barang yang mereka miliki itu tidak boleh dibuang dengan alasan akan ada manfaatnya suatu saat nanti, atau bisa juga karena barang itu memiliki nilai historis.v_v jadi sayang banged buat dibuang, tapi menurut aku sih Penumpuk ini tergolong orang-orang yang detail' dan sama sekali tidak berfikir global.
Saya sendiri selalu merasa gatal untuk merapikan dan membuang barang yang sudah tidak aku pakai, aku sukai atau masanya sudah lewat entah itu masih bagus atau sudah rusak apalagi. Karena itu stress banged melihat tingkah laku penumpuk barang. Aku pernah bertemu dengan penumpuk ini, mulai dari sikat gigi bekas yg tidak dipakai lagi yg masih saja terpajang di tempatnya bersama sikat gigi baru... ada juga kalender tahun 2000 yang masih di tumpuk di belakang kalender 2014 huusssh...dan tumpukan kertas hasil konsul dengan pembimbing padahal dia sudah selesai study 3 tahun lalu dan belum lagi tas sobek, baju jadul, dan perlengkapan make up yang sudah abis dan bahkan kadaluarsa masih saja tersimpan rapi.
Pernah saya menonton Oprah katanya ''Barang yang sudah tidak terpakai selama setahun lebih artinya sudah layak untuk di buang atau di daur ulang''. Banyak orang tidak sadar bahwa dirinya sudah mengumpulkan dan menumpuk barang yang sebenarnya tak ia butuhkan lagi atau mungkin mereka tidak menganggap tumpukan barang tidak berguna itu sebagai masalah.. aku sih masalah banged.
Untuk mengatasi Penumpukan ini, keluarga sebenarnya memiliki peran penting. Ada tiga langkah kecil yang bisa diambil untuk menyelamatkan rumah anda dari bencana tumpukan barang. Tapi kuncinya, semua harus dilakukan bersama, dengan melibatkan si Penumpuk secara langsung. (Deborah Branscum, 2008).
Menurut Debora ada beberapa tips untuk menyembuhkan Sifat Pemulung atau Hoarding.
Pertama, terapkanlah prinsip ‘jangan menyimpan barang yang tidak berguna dan tidak berharaga’, serta prinsip ‘hanya karena suatu barang bekas masih dapat dipakai suatu saat nanti, bukan berarti anda harus menyimpannya di rumah’. Mengingat hoarder punya pandangan berbeda akan arti ‘barang yang berguna dan berharga’ maka keputusan apakah suatu barang itu berguna dan berharga harus dibuat bersama antara si hoarder dengan anggota keluarga lainnya. Bila suatu barang dianggap berguna dan berharga oleh hoarder, tetapi tidak oleh anggota keluarga yang lain, maka barang tersebut harus dibuang. Begitu pula bila si hoarderberpendapat bahwa kardus bekas dapat dipakai untuk pindah rumah suatu saat nanti, ingatkan ia bahwa kardus bekas dapat diperoleh gratis dengan memintanya ke toko kelontong kalau anda memang membutuhkannya nanti; jadi tidak perlu menyimpannya di rumah.
Kedua, lakukanlah pembersihan rumah yang teratur dan berkala. Adakan pembersihan mingguan, bulanan, semesteran, dan tahunan. Bisa jadi barang yang anda butuhkan minggu lalu sudah tidak anda butuhkan lagi minggu ini, bisa jadi barang yang masih terpakai bulan lalu sudah tidak terpakai lagi bulan ini, bisa jadi benda yang tahun lalu berharga sudah tidak berharga lagi tahun ini karena rusak atau berkarat. Dengan begitu anda bisa mengendalikan jumlah barang yang anda simpan di rumah agar tidak menumpuk.
Ketiga, ingatlah selalu bahwa manusia seharusnya mencintai orang lain dan memanfaatkan benda-benda; bukan mencintai benda-benda dan memanfaatkan orang lain. Sadarkan mereka betapa perasaan sayang mereka untuk membuang benda yang tidak diperlukan tidak hanya bisa mencelakai diri mereka sendiri tetapi juga mencelakai orang-orang di sekitar mereka, orang-orang yang mencintai dan dicintai mereka. Barang yang hilang atau terbuang bisa diganti, tetapi orang yang telah tiada dan cinta yang hilang tidak bisa.
*Referensi: Hoarding syndrome/ serbuan barang-barang yang tak mau hilang Oleh Deborah Branscum. RDI juli 2008: 89
Comments