Belajarlah dari yang sudah sudah !!!

 Hamil di Luar Nikah

Aku tidak menyalahkan takdir, namun beban ini teramat berat di pikul. Padahal aku dilahirkan dalam keluarga yang baik dan terpandang di mata masyarakat. Aku lahir sekitar 40 tahun yang lalu di Bandung, sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara; dua laki-laki dan adikku semua perempuan kecuali si bungsu laki-laki.
            Berbeda dengan saudaraku, saya pendiam dan cenderung kuper. Padahal sekolahku di sekolah umum yang pergaulannya cukup bebas. Namun pengalaman bathin di keluarga menjadikan aku sosok yang bermental lemah dan nyaris lebih banyak menderita.
            Aku pernah dekat dengan seorang laki-laki yang cukup baik dan cukup aku kenal karena kami satu kampung, waktu itu usiaku masih 20 tahun, namun ayah menlaknya dengan alas an tidak ingin memiliki menantu satu kampong. Penolakan seperti itu sering ayah lakukan termasuk kepada kedua kakak laki-lakiku, sekalipun akhirnya mereka menikah.
            Sementara penolakan ayang yang kedua kalinya membuatku terpukul, waktu itu menginjak usia 26 tahun. Padahal laki-laki itu bukan hanya siap menikahiku tapi juga punya pekerjaan dengan posisi yang cukup bagus. Ia berasal dari Padang dan alasan ayah menolak karena ia bukan orang Sunda. Ayah hanya mengiginkan menantu dari Sunda kalau bisa dari Bandung. Sejak kejadian tersebut aku semakin takut berdekatan dengan laki-laki.
            Tragedi sesungguhnya yang kau alami adalah ketika adik perempuanku yang kedua “Kecelakaan” alias Hamil di luar nikah. Pada usianya yang 24 tahun. Hal iitu membuat ayah marah besar dan nyaris bentrok dengan keluarga laki-laki yang menjadi pacar adikku sejak berusia 21 tahun. Untuk menutupi aib ia harus di nikahkan segera, namun ayah menolak sebelum kedua kakaknya menikah. Saat itu usia saya 29 tahun dan di desak mencari pasangan, namu saya menolak karena tidaklah mudah mencari pasangan yang cocok apalagi di usia yang mendekati kepala tiga. Bagi saya, kejadian itu sepenuhnya salah ayah, andai saja ia menikahkan aku di usia 20 atau 26 tahun lalu, kisahnya tentu akan berbeda, namun nasib sudaj jadi bubur.
Sebulan kemudian adikku di nikahkan untuk menutup aib dan kandungannya sudah memasuki bulan ke 4. Namun sepandai-pandainya menyimpan rahasia akan terbongkar juga. Masyarakat menyadari hal itu setelah lima bulan kemudian adikku melahirkan bayi laki-laki yang sehat. Namu sayang, adikku meninggal beberapa hari setelah melahirkan.)*

Banyak gadis yang malahirkan di luar nikah, kemudian menikah karena terpaksa untuk menutupi aib, hal itu membuktikan longgarnya pacaran yang di lakukan remaja saat ini. Fakta berbicara bahwa pacaran adalah pintu dari perzinahan. Sementara mereka yang siap dan ingin menikah seringkali di halang-halangi dengan berbagai alasan yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

Sebuah penelitian LIP UI tahun 1997 membuktikan bahwa:
Remaja yg menilai wajar berbincang dengan lawan jenis  99%
Pegangan tangan 82% - Berpelukan 45,9% - Cium pipi 47,3% -  Cium bibir  22%
 Cium leher   11%. Itu data beberapa tahun yang lalu, bayangkan saja kemajuannya di tahun 2000-2011 ini. MasyaAllah…                                                    (Gatra 1998:25)

Comments

Popular posts from this blog

Laporan Study Tour Mahasiswa

Imaginary Friend