Tuhan, Pertemukan lagi Aku dengannya...
Seperti biasa dan sudah menjadi rutinitasku, sepulang kerja atau hari off di mana aku sedang libur kerja, aku selalu menyempatkan diri ke toko buku Gramedia yang berada di lantai dua sebuah mall yang cukup terkenal di kotaku. Selain untuk refresing, hobbi membacaku juga tersalurkan di sini. Aku memang sangat senang membaca dan mengoleksi buku-buku best seller nasional maupun international, makanya Gramedia toko buku dan beberapa toko buku lainya selalu menjadi tujuan utamaku untuk di kunjungi.
Sore yang cerah, aku berdiri di depan blok yang khusus memajang buku-buku Islami baik karya penulis dalam maupun luar negri, akhir-akhir ini selera membacaku memang mengarah pada buku-buku Islami, entah karena tuntutan usia atau kebutuhan rohaniku sendiri yang mendorongku untuk lebih memahami tentang ajaran-ajaran dari agama yang ku yakini.
Suasana di toko cukup ramai, apalagi hari ini ada pertemuan bedah buku dari seorang pengarang fiksi yang cukup tenar dari Jakarta, aku sedikit terganggu karena kebisingan itu membuatku sulit berkonsentrasi membaca buku yang sedang aku gandrungi, Yaa… hari ini memang jauh lebih bising dari hari biasanya. Mencoba membaur dalam kebisingan, aku pun asyik mengamati satu demi satu buku–buku yang ada di depanku. Tanpa ku sadari setengah jam telah berlalu, akhirnya diskusi tadi berakhir juga. Suasana kini jauh lebih tenang meski pengunjung masih terus berdatangan, padahal hari ini Kamis, biasanya pada akhir pekan saja para pengunjung ramai memenuhi toko ini.
Aku sangat asyik dengan buku yang aku baca hingga tak menghiraukan orang-orang disekitarku. Beberapa orang gadis yang ada di sampingku sedang asyik memperhatikan salah seorang pengunjung yang berdiri tepat di sisi kiriku. Pria dengan paras’ oriental yang menawan, penampilannya seperti selebriti saja, sangat berbeda dengan pengunjung lainnya. Tak pelak lagi ia menjadi sasaran mata gadis-gadis yang ada di sekitarnya. Sedari tadi rupanya ia berdiri di sampingku, tepat di sisi kiriku sedang asyik memilih buku-buku Islami yang memang di pajang khusus di blok ini. Tiba-tiba saja suasana di sekitarku terasa sesak, banyaknya orang yang memadati blok ini sedikit membuatku heran, apalagi mayoritas gadis-gadis, setelah kuperhatikan blok-blok buku yang lain memang tidak seramai di blok ini. Sejenak aku memperhatikan orang-orang di sekitarku, akhirnya aku tahu magnet yang menarik mereka ke blok ini. Dua orang remaja putri sayup terdengar lagi asyik membahas penampilan salah seorang pria yang berada di sampingku,“Ihh..,cakep banget….manis banget tuh cowok…keren abiz lagi….”, puji salah seorang diantaranya,“Iya…ya..jangan2 dia itu artis atau model gitu….duuuh…cakep amat yach…”, tambah seorang lagi.
Obrolan mereka sedikit membuatku terganggu, tak tahan dengan situsi ditempat itu, akupun membalikkan tubuhku ke arah lain untuk menghidari keramain, maklum aku memang sedikit anti dengan keramain, apalagi tujuanku ke sini kan untuk baca buku. Namun sebagai kaum hawa, tentu saja aku penasaran juga dengan sosok pria yang mereka bahas, dengan ragu ku palingkan pandanganku ke arah pria di sampingku tadi, jaket Army coklat yang di kenakannya memang nyaris membuatnya mirip dengan Ariel, Vokalis Peterpan itu….potongan rambut ala Japanese juga membuat wajahnya nampak menawan, tapi sayang sekali aku hanya melihatnya sekilas, itu juga dari samping doang…”emang keren sich…” pikirku sejenak, sembari melangkah ke arah buku-buku Terlaris yang sedang dipajang di sisi kananku, La Tahzan, Jangan Bersedih, Ayat-ayat Cinta, Mukjizat Sholat Shubuh dan seabrik buku-buku Islami terlaris lainnya sempat menyita perhatianku dari pria tadi.
Sekitar dua puluh menit berlalu, akupun beranjak tuk mencari buku terbaik yang menurutku patut untuk aku miliki sebagai tambahan koleksiku, kakiku kembali melangkah ke arah buku Islami tentang Muslimah yan berada satu blok dari blok tempat pria tadi berdiri, ku putuskan memilih satu diantaranya untuk kubaca dirumah, beberapa menit kemudian seseorang dari belakang menyapaku “Hei…boleh nggak aku buka plastik bukunya, soalnya nggak ada yang terbuka nich…” suara tadi spontan membuatku berbalik, dan betapa kaget dan tak percayanya aku, melihat dari dekat wajah pria itu, Sepertinya aku kenal wajah itu, aku bahkan tak sadar kalau wajah bengong yang ku pajang membuat pria itu keheranan, seketika juga kupalingkan pandanganku ke buku yang ada di tanganku,”sepertinya aku pernah bertemu dia, wajahnya tidak asing lagi…tapi dimana dan kapan…??? Aku tak ingat lagi…” pikiranku terus melayang mencari tahu tentang wajah itu. “Mbak…boleh nggak…?” Ia kembali meminta izinku, memangnya aku ini terlihat seperti pelayan toko, dasar aneh…”Oh, buka aja, nggak apa-apa koq…, saya juga sering gitu kalo pengen banget tahu isi bukunya…buka aja…” jawabku tanpa memalingkan wajah. “Wah, aku buka yaa…kalo’ di marain aku bilang kamu lho yang nyuruh…” dengan nada tak bersalah ia bisa-bisanya mengatakan itu. “Hah…ehh….jangan gile donk…koq aku sich, kan kamu yang buka, enak aja nyalain orang….”ketusku sembari berbalik kearahnya, lalu menjauh beberapa langkah ke arah belakangnya.
Pikiranku terus berputar mencari tahu tentang wajah pria itu. Aku merasa sangat mengenalnya, paling tidak pernah melihat wajah itu sebelumnya, tetapi dimana dan kapan, aku tak bisa menemukan jawabannya. “Hei…dah pernah baca buku ini belum, ini bagus lho…”pria tadi rupanya masih pengen ngobrol,mataku melirik buku bersampul merah yang disodorkannya lalu mengambil dan membaca ringkasan isi buku itu di cover belakang,“Yaa…lumayan…”jawabku dengan nada rendah tanpa memalingkan pandanganku dari buku tadi. Menyadari keanehan reaksiku, ia malah menundukkan kepalanya mencoba melihat wajahku lebih dekat lagi, spontan saja detak jantungku rasanya terdengar oleh semua orang, wajahku memerah, tangan dan kakiku lemas, ia membuat aku semakin gugup saja.
Pikiranku terus berputar mencari tahu tentang wajah pria itu. Aku merasa sangat mengenalnya, paling tidak pernah melihat wajah itu sebelumnya, tetapi dimana dan kapan, aku tak bisa menemukan jawabannya. “Hei…dah pernah baca buku ini belum, ini bagus lho…”pria tadi rupanya masih pengen ngobrol,mataku melirik buku bersampul merah yang disodorkannya lalu mengambil dan membaca ringkasan isi buku itu di cover belakang,“Yaa…lumayan…”jawabku dengan nada rendah tanpa memalingkan pandanganku dari buku tadi. Menyadari keanehan reaksiku, ia malah menundukkan kepalanya mencoba melihat wajahku lebih dekat lagi, spontan saja detak jantungku rasanya terdengar oleh semua orang, wajahku memerah, tangan dan kakiku lemas, ia membuat aku semakin gugup saja.
Karena merasa di cuekin ia lalu melangkah ke blok buku-buku mengenai Hukum yang berada sekitar lima meter dari hadapanku. Merasa lebih aman, akupun mencoba memandangnya lebih jelas lagi, jangan-jangan hanya mirip salah satu artis Korea saja, makanya aku merasa mengenalnya. Pikiran itu sempat terbesit dalam benakku, memgingat kegemaranku nonton serial Asia baik dari Korea ataupun Jepang, “yaa…jangan-jangan memang hanya mirip salah satu artis itu saja…” pikirku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18:00, sebentar lagi sholat Magrib tiba, akupun berjalan meninggalkan tempatku. Pria itu terlihat sedang asyik menjawab teleponnya, sembari melirik dengan senyuman manis bahkan teramat manis yang membuatku serasa diawan. Tak lama kemudian Ia sudah berada di depan counter kasir, terlihat menulis sesuatu, entah apa…mungkin ia membayar dengan menggunakan kartu kredit atau apalah, jadi harus menandatangani billnya, paling tidak itu yang kuperkirakan. Tak lama kemudian Ia melangkah kearah pintu keluar toko, mataku tak bisa berhenti memandangnya, entah energi apa yang menarikku untuk terus memperhatikannya. Kira-kira tiga langkah dari pintu keluar, ia membalikkan tubuhnya lalu memandangku yang berdiri terpaku di depan kasir, dengan melemparkan senyum terlembut yang pernah aku lihat, jelas sekali… wajah itu memang aku kenal, entah dimana yang aku yakini saat itu hanyalah bahwa kami pernah berjumpa sebelum hari ini, mungkin di kehidupan sebelumnya… entahlah, aku sendiri tak meyakini adanya reinkarnasi. “Mbak… apa masih ada lagi selain buku ini?” suara petugas kasir akhirnya memalingkan pandanganku dari sosok pria itu. “Ohh, itu aja koq Mbak..” jawabku sembari memberikan selembar uang, “Mbak…bukunya sudah dibayar ama Mas yang tadi, yang berjaket coklat itu…katanya teman baik mbak yaa…, dia baik banget yaa mbak… cakep lagi… he..he…he… ini ada titipannya mbak…” Petugas kasir mengembalikan uang yang aku berikan, lalu memberiku secarik kertas yang katanya di titip oleh temanku tadi plus buku bersampul merah, rupanya ia sudah membayarkan buku yang hendak ku beli dan memberiku buku yang direkomendasikannya tadi.
Mendengar penjelasan petugas kasir, rasanya aku tak percaya apa yang baru saja di katakannya, aku hanya terdiam dan tersenyum lalu beranjak ke lantai tiga mall untuk sholat Magrib.
Setelah selesai menunaikan sholat, aku mampir di salah satu café yang berada masih di lantai tiga mall itu. Segelas Orange Juice menyegarkan dahagaku petang itu, kertas putih yang di berikan kasir tadi baru sempat aku buka, dengan rasa penasaran aku membaca teks di kertas itu, hanya ada beberapa kata:
“Hai… salam kenal dariku, mungkin perasaanku saja, tapi sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, terima kasih atas waktunya, semoga Tuhan mempertemukan kita lagi”
Suasana ramai di café itu sekejap menjelma sunyi senyap, aku tak bisa memikirkan hal lain, kalimat seolah menjawab pertanyaanku sejak tadi, keyakinanku yang merasa mengenal wajahnya meski aku tak tahu siapa dia aku tetap merasa mengenalnya.
Malam itu setelah selesai menuanaikan Sholat Isya, aku beranjak ke tempat tidur, seperti biasanya sebelum tidur aku suka membaca buku, di atas ranjang empuk dengan suasana hening secarik kertas tadi ku baca sekali lagi, perlahan ku buka buku bersampul merah yang diberikan pria tadi yang melalui pesannya kuketahui bernama Yuga.
Beberapa saat kemudian, kala bacaanku memasuki halaman ke tujuh buku itu aku bangkit, tiba-tiba saja aku teringat satu hal. Sosok pria tadi….Yaa, pria itu… aku ingat, wajah, potongan rambut, mata dan senyumannya, juga pembawaan yang ditampakkannya, kini aku ingat dimana aku mengenalnya.
Ia adalah sosok yang selama ini aku impikan, bahkan aku yakini akan ku temukan suatu saat nanti. Sebagai seorang gadis, bukan rahasia lagi jika kami sering menghayalkan sosok pria idaman kami, ada yang hanya sebatas memikirkannya atau membicarakannya saja, tapi ada pula yang mencarinya, paling tidak sosok yang mendekati pria idaman merekalah yang akan di pilih sebagai kekasih. Namun hal itu berbeda denganku, aku tidak lagi menjalin hubungan dengan pria secara khusus semenjak kepergian Iqbal.
Kematian Iqbal dalam suatu kecelakaan nahas memang merubah pribadiku menjadi lebih tertutup. Iqbal adalah pria yang menjadi cinta pertamaku sejak berada dibangku SMA dulu, kami menjalin hubungan selama enam tahun ketika masih sama-sama berada di kelas satu hingga pada tahun ketiga kuliahku di sebuah perguruan tinggi negeri di kota ini. Kepergiannya menghadap Ilahi secara tiba-tiba sungguh sangat mempengaruhiku, khususnya dalam hal asmara . Aku tak pernah tertarik lagi untuk memulai hubungan baru, meski banyak hati rela menerimaku apa adanya.
Namun setahun terakhir ini, kala usiaku sudah memasuki 23 tahun, aku mulai membayangkan lagi sosok pria idaman yang akan menjadi pendampingku kelak. Ya, sosok Yuga … tidak salah lagi, aku memang selalu meyakini bahkan sering meng-visualisasikan akan bertemu dengan sosok seperti itu, meski teman-temanku banyak yang meragukan aku, aku tetap pada pendirianku bahwa sosok itu ada dan akan datang padaku suatu hari.
Tanpa terasa air mata mengalir membasahi pipiku, aku adalah orang yang sangat percaya pada kekuatan doa dan keyakinan diri, apa yang selama ini aku pikirkan, aku bayangkan dan aku impikan seakan mendekati nyata, bukanlah kesalahan untuk bermimpi, karena impian itulah aku bisa bertahan dari kesedihanku. Di penghujung malam ini aku kembali berdoa dan bersyukur pada sang Pencipta:
“Yaa Allah, terima kasih telah mempertemukan aku dengannya, kumohon dengan sangat…Tuhan, pertemukan lagi aku dengannya….”
Pesan Penulis:
“Percayalah pada kemampuan pikiran dan kedasyatan do’a”




Comments